UEFA Tunjuk Daniel Siebert Pimpin Final Liga Champions 2026
Asosiasi Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) resmi menunjuk wasit asal Jerman, Daniel Siebert, untuk memimpin pertandingan final Liga Champions 2026 antara Arsenal melawan Paris Saint-Germain (PSG) pada akhir pekan ini. Penunjukan pria berusia 42 tahun tersebut, dilansir dari Bola, menjadi tonggak besar dalam kariernya karena merupakan kesempatan pertama bagi Siebert untuk memimpin laga puncak kompetisi antarklub tertinggi di Eropa tersebut. Kendati demikian, penugasan ini kembali mengingatkan publik pada kontroversi besar saat Siebert memimpin laga penyisihan grup Piala Dunia 2022 antara Ghana dan Uruguay yang memicu kemarahan besar dari para pemain Uruguay akibat penolakan sejumlah klaim penalti.
Pemain depan Uruguay saat itu, Edinson Cavani, meluapkan rasa frustrasinya pascapertandingan hingga memukul monitor VAR dan melontarkan kritik tajam atas kepemimpinan wasit asal Jerman tersebut.
"Mereka harus memasukkannya ke penjara," kata Cavani. Mantan penyerang Manchester United tersebut menilai hukuman yang adil juga harus diberikan kepada perangkat pertandingan yang dianggap mendepak timnya dari turnamen.
"Tetapi, jika saya dihukum karena memukul VAR maka wasit yang membuat kami tersingkir dari Piala Dunia juga harus dimasukkan ke penjara," imbuhnya. Setelah insiden di Qatar, beberapa penggawa Uruguay dilaporkan terus melayangkan protes hingga mengejar Siebert menuju lorong ruang ganti stadion.
Cavani kemudian meminta publik untuk memahami luapan emosi serta tekanan besar yang dihadapi oleh para pesepak bola dalam sebuah laga krusial. "Hal-hal seperti itu bisa terjadi. Orang-orang harus sedikit melihat dari sisi pemain sepak bola, bukan hanya dari sisi wasit atau pihak lainnya.
Mereka harus melihat apa yang terjadi, mengapa itu terjadi, dan mengapa semuanya berlangsung seperti itu," ujar Cavani. Dirinya tidak menyangkal bahwa para pemain profesional memiliki kewajiban untuk selalu menjaga perilaku mereka di atas lapangan.
"Memang benar kami harus menjaga perilaku dan sebagainya. Namun, kami juga manusia. Kadang apa yang terjadi di lapangan dijalani dengan penuh gairah. Anda bekerja sangat keras untuk sampai ke sana, untuk bersaing, dan melalui semua proses itu," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa tingginya tensi pertandingan membuat luapan emosi spontan dari seorang pemain menjadi hal yang dapat dimengerti. "Karena itu, reaction seorang pemain mungkin tidak bisa dibenarkan, tetapi setidaknya bisa sedikit lebih dimaklumi," lanjutnya. Meskipun sempat memicu kontroversi di Piala Dunia 2022, Siebert tetap dipercaya oleh UEFA untuk bertugas di ajang Piala Eropa 2024, walaupun namanya tidak terdaftar sebagai wasit untuk Piala Dunia 2026.
Di sisi lain, Arsenal mengusung ambisi besar untuk menghindari catatan buruk perwasitan masa lalu seperti kartu merah Jens Lehmann pada final 2006, sementara PSG bertekad mempertahankan gelar juara berturut-turut.
Sepanjang musim ini, skuad asuhan Mikel Arteta memiliki rekam jejak disiplin yang baik tanpa kartu merah serta mencatat dua kemenangan 1-0 saat dipimpin Siebert, sedangkan PSG baru sekali dipimpin Siebert saat bermain imbang tanpa gol melawan Athletic Club.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow