Menu
Close
society

Informasi Berita Terkini

Bakti Olahraga Djarum Foundation Gelar Women Soccer Trilogy di Kudus

Smallest Font
Largest Font

Bakti Olahraga Djarum Foundation melakukan langkah nyata untuk memperkuat ekosistem sepak bola putri di Indonesia. Tiga turnamen sepak bola putri berskala nasional dan internasional digelar di Kudus, Jawa Tengah.

Ajang bertajuk Women's Soccer Trilogy atau Trilogi Sepak Bola Putri ini dijadwalkan berlangsung mulai Juni hingga Agustus 2026, seperti dilansir dari Bola.

Rangkaian kompetisi ini diawali dengan MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All Stars pada 23 sampai 28 Juni 2026. Turnamen kemudian berlanjut dengan Hydroplus Soccer League (HPSL) All Stars pada 5 hingga 12 Juli 2026.

Sebagai penutup, Srikandi Merdeka Cup akan diselenggarakan pada 14 hingga 23 Agustus 2026. Ajang yang dipersembahkan oleh Caffino ini menjadi turnamen internasional sekaligus wadah pemantauan calon pemain Timnas Indonesia Putri.

Enam negara dipastikan mengirimkan tim mereka untuk bersaing dalam Srikandi Merdeka Cup. Negara-negara tersebut meliputi Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Arab Saudi, dan Yordania.

Sosialisasi mengenai Trilogi Sepak Bola Putri telah dimulai di Alun-alun Simpang 7 Kudus pada Minggu (21/6/2026). Sejumlah atlet yang akan bertanding di MLSC All Stars turut memeriahkan acara dengan melakukan pawai menggiring bola.

Kegiatan kick-off tersebut dihadiri langsung oleh Program Director MilkLife Soccer Challenge dan Hydroplus Soccer League, Teddy Tjahjono. Hadir pula Wakil Bupati Kudus, Bellinda Birton, untuk menandai dimulainya rangkaian turnamen usia muda ini.

Dalam kesempatan tersebut, Teddy Tjahjono menyatakan bahwa pengembangan sepak bola putri membutuhkan proses yang berkelanjutan dan tidak dapat dilakukan secara instan.

"Women's Soccer Trilogy bertujuan membangun platform ekosistem pembinaan sepak bola putri yang terintegrasi. Pembinaan dimulai dari MLSC sebagai pengenalan, berlanjut ke HPSL, di mana akan terpilih Timnas Indonesia Putri untuk berlaga di Srikandi Merdeka Cup," ujar Teddy di Kudus, Minggu (21/6/2026).

Menurut Teddy, sistem kompetisi yang kompetitif dan berjenjang dari usia dini hingga level profesional sangat penting untuk membentuk fondasi karier para pemain di masa depan.

"Kami ingin setiap pemain memiliki jalur pengembangan yang utuh, dari usia dini berproses melalui kompetisi yang kompetitif, sampai ke level profesional. Jadi mereka memiliki fondasi kuat untuk meniti karier sebagai pesepak bola di masa mendatang," lanjutnya.

Penyelenggaraan kompetisi olahraga berskala besar ini mendapat apresiasi langsung dari Wakil Bupati Kudus, Bellinda Birton. Pemerintah daerah mendukung penuh inisiatif Bakti Olahraga Djarum Foundation tersebut.

Selain mengembangkan prestasi olahraga, kehadiran turnamen nasional dan internasional ini diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian daerah melalui sektor sport tourism.

"Terima kasih untuk Djarum Foundation yang telah menyelenggarakan tiga event besar berskala nasional dan internasional dengan Supersoccer Arena Kudus yang menjadi tua rumah. Tentu ha ini menjadi pemantik bagi Kudus untuk terus berbenah dan siap menerima kehadiran atlet-atlet berbakat dari kota serta negara-negara lain," ujar Bellinda.

Bellinda berharap Kabupaten Kudus tidak hanya dikenal sebagai pencetak atlet bulutangkis berprestasi, tetapi juga bertransformasi menjadi pusat pengembangan sepak bola putri nasional.

"Selain dikenal sebagia kota yang melahirkan atlet-atlet bulutangkis berprestasi, kami berharap Kudus juga makin dikenal sebagai pusat pengembangan sepak bola putri Indonesia."

Dampak ekonomi dari kegiatan ini diproyeksikan langsung menyentuh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar lokasi pertandingan.

"Penyelenggaraan Women's Soccer Trilogy tentu memiliki dampak positif dalam menggerakkan perekonomian masyarakat, khususnya melalui UMKM. Selamat bertanding, kami akan menyambut dengan hangatnya keramahan dan indahnya budaya Kabupaten Kudus," lanjutnya.

Motivasi Tinggi Para Pesepak Bola Muda

Kompetisi yang terstruktur dan berkelanjutan ini menjadi ruang bagi para atlet muda di wilayah Muria Raya untuk mengejar cita-cita menjadi pemain profesional.

Queisha Sava Azzalfa, siswi SDUT Bumi Kartini Jepara, mengutarakan perkembangan pesat yang dirasakannya. Pengalaman berlaga di KU 12 MLSC hingga U-15 HPSL memberikan atmosfer kompetisi yang semakin menantang.

Berkat performa apiknya, Queisha sempat memperkuat tim Indonesia di ajang JSSL Singapore 7's 2025. Ia juga sukses mengoleksi empat penghargaan Best Goalkeeper dalam ajang MilkLife Soccer Challenge.

“Sepak bola putri sudah semakin berkembang, semakin banyak pula yang ikut bermain. Menurut saya setiap tingkatan ada kesulitannya sendiri, seperti di MLSC kita mendalami teknik dasar, tetapi saat di Hydroplus Soccer League kita main teknik yang baik. Saya harus lebih bekerja keras lagi dan pantang menyerah karena aku ingin jadi pesepakbola profesional,” ujar Queisha.

Antusiasme serupa ditunjukkan oleh Sabrina Dwi Ristiyana, siswi SDN Jambean 02 Pati. Ia merupakan peraih gelar juara tim sekaligus penghargaan Best Player KU 12 MLSC Kudus Seri 2 2025/2026 pada Mei lalu.

Bina merasa bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk terus berkembang melalui tahapan kompetisi yang sesuai dengan tingkat kemampuannya.

“Alhamdulilah terpilih untuk tim MLSC All-Stars Kudus karena persaingannya sangat ketat. Kini saya punya pengalaman bertanding yang banyak. Rasanya lebih tertantang dari bertanding di level SD terus meningkat di level selanjutnya ada Hydroplus Soccer League," ujar Bina.

Pemain muda ini juga berencana mengajak keluarganya untuk menyaksikan pertandingan internasional demi memetik pelajaran berharga mengenai cara bermain di level tim nasional.

"Saya tidak sabar untuk menonton Srikandi Merdeka Cup nanti, karena pasti akan seru untuk mengambil pelajaran bagaimana cara bermain di level timnas. Saya akan mengajak seluruh keluarga saya untuk menonton,” ucap Bina.

Ghaitsa Luffi Arachman, siswi kelas 5 SD Unggulan Muslimat NU Kudus yang berposisi sebagai penyerang tim MLSC All-Stars Kudus, turut gembira dengan tersedianya wadah kompetisi yang jelas.

Ghaitsa tercatat sudah mengikuti kompetisi sepak bola putri sejak bermain di kelas usia KU 10 MLSC pada tahun 2024 hingga berhasil menembus kategori U-15 tahun ini.

“Senang sekali sekarang kita yang suka sepak bola sudah punya wadah turnamen jadi bisa memiliki target, kalau SD bermain di MLSC lalu setelahnya bermain di Hydroplus Soccer League. With ada kompetisi ini, saya juga memiliki tujuan yang jelas," ujar Ghaitsa.

Kehadiran Srikandi Merdeka Cup di kota asalnya menjadi pemacu semangat bagi Ghaitsa untuk berlatih lebih giat agar bisa menembus skuad tim nasional di masa depan.

"Apalagi nanti ada Srikandi Merdeka Cup di Kudus, rasanya senang banget bisa melihat pertandingan tingkat internasional, itu menjadi tambahan motivasi saya agar giat berlatih. Siapa tahu suatu saat akan juga bisa main bareng timnas Indonesia seperti kakak-kakak nanti,” lanjutnya penuh harap.

Tahapan Pembinaan dari Usia Dini hingga Level Elite

Rangkaian pembinaan sepak bola putri ini dirancang secara sistematis melalui beberapa tahapan kompetisi yang saling terhubung.

MilkLife Soccer Challenge (MLSC) diposisikan sebagai langkah awal untuk mengenalkan sepak bola kepada siswi kelompok usia KU 8, KU 10, dan KU 12 di 12 kota penyelenggaraan.

Turnamen ini juga berfungsi sebagai sarana pemantauan bakat. Pemain yang potensial akan mendapatkan pelatihan intensif lanjutan lewat program MilkLife Soccer Extra Training.

Para pemain terbaik dari program tersebut kemudian dipilih untuk memperkuat tim MilkLife Soccer Challenge All-Stars yang mewakili kota masing-masing.

Selain memperebutkan piala, performa mereka dipantau langsung oleh tim pemandu bakat yang dipimpin oleh Timo Scheunemann dan Jacksen F Tiago untuk membentuk tim Indonesia di ajang SingaCup 2026.

Setelah fase pengenalan di MLSC, para atlet belia diarahkan untuk masuk ke Sekolah Sepak Bola (SSB) demi memperdalam kemampuan teknis mereka.

Pada jenjang usia U-15 dan U-18, para pemain difasilitasi dalam Hydroplus Soccer League yang digelar di empat wilayah, yaitu Jakarta, Bandung, Kudus, dan Surabaya.

Tim juara dan runner-up dari masing-masing regional berhak mengantongi tiket menuju putaran nasional Hydroplus Soccer League All-Stars, yang menjadi basis pembentukan talent pool tim nasional.

Tim pemandu bakat selanjutnya menyaring para pemain potensial untuk mengisi dua skuad Indonesia yang akan berlaga memperebutkan prestasi di Srikandi Merdeka Cup melawan enam negara luar.

Menurut keterangan tambahan dari Teddy Tjahjono, ekosistem pembinaan yang dibangun Djarum Foundation selama tiga tahun terakhir ini memiliki keterkaitan kuat dari rentang usia 8 sampai 18 tahun.

"Proses pembinaan yang berkesinambungan ini memiliki benang merah sangat kuat untuk semua kelompok umur, mulai dari 8 hingga 18 tahun. Wadah untuk berlatih, bermain dan berkompetisi pun sudah terbentuk dalam ekosistem yang selama 3 tahun terakhir dibangun oleh Djarum Foundation," ujar Teddy Tjahjono.

Melalui sistem kompetisi yang teratur ini, ketersediaan pemain bertalenta untuk tim nasional diharapkan terus terjaga, termasuk untuk persiapan skuad U-16 jelang kualifikasi AFC Cup pada 5 Oktober mendatang.

"Muaranya akan terbentuk talent pool yang banyak untuk pilihan memperkuat timnas, salah satunya di ajang Srikandi Merdeka Cup nanti akan terbentuk skuad U-16 yang akan bermain di kualifikasi AFC Cup pada 5 Oktober mendatang,” lanjutnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed