Javier Tebas Kritik Sikap Diam Anggota FIFA
Presiden La Liga Javier Tebas melontarkan kritik tajam terhadap sikap bungkam otoritas sepak bola dunia atas keputusan FIFA yang menangguhkan sanksi kartu merah penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Bola, kritik tersebut disampaikan setelah Balogun tetap dapat memperkuat timnya saat menghadapi Belgia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Komite Disiplin FIFA memutuskan untuk menangguhkan hukuman larangan bertanding satu laga yang diterima Balogun selama 12 bulan ke depan. Langkah kontroversial ini sebelumnya sempat memicu kecaman keras dari UEFA yang menilai keputusan tersebut tidak memiliki dasar yang jelas dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Kendati mendapatkan penolakan dari UEFA, respons serupa hampir tidak terdengar dari konfederasi sepak bola di luar Eropa. Fenomena ini memicu kekecewaan Tebas yang menganggap ada pembiaran massal secara sengaja di dalam ekosistem sepak bola internasional terhadap kebijakan sepihak badan tertinggi sepak bola tersebut.
Menurut Tebas, penangguhan hukuman Balogun merupakan representasi kecil dari masalah struktural yang lebih besar di tubuh FIFA. Pria berusia 63 tahun itu mengkritik tata kelola organisasi yang dianggapnya semakin tertutup dan kerap mengabaikan peran liga domestik dalam pengambilan keputusan penting.
"Yang paling buruk adalah banyak pihak di dunia sepak bola menyadari hal itu, tetapi terlalu banyak yang memilih tetap diam," tulis Tebas melalui akun X.
Ia menambahkan bahwa sikap pasif dari para pemangku kepentingan tersebut justru memperparah kondisi tata kelola yang ada saat ini. Keengganan untuk bersuara dinilai demi mencari posisi aman dalam dinamika politik sepak bola global.
"Karena diam jauh lebih nyaman daripada membela independensi, transparansi, dan tata kelola yang baik," lanjut Tebas.
Melalui pernyataan tertulisnya, Tebas juga menuntut reformasi menyeluruh agar institusi sepak bola internasional dapat kembali dipercaya oleh seluruh elemen, termasuk para pemain dan suporter. Ia menekankan pentingnya transparansi dalam setiap regulasi yang dikeluarkan oleh organisasi pusat.
"Sepak bola dunia layak memiliki institusi yang bertanggung jawab, menghormati aturan, dan dikelola secara transparan, bukan melalui keputusan sepihak, berdasarkan kebijakan sendiri, dan sewenang-wenang yang mengikis kepercayaan suporter, klub, liga, serta para pemain," tegas Tebas.
Di sisi lain, Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) memilih fokus untuk memberikan pembelaan terhadap wasit asal Brasil, Raphael Claus, yang memimpin laga antara Amerika Serikat melawan Bosnia dan Herzegovina pada 2 Juli 2026. CONMEBOL merilis pernyataan resmi usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump melayangkan kritik terhadap performa sang pengadil di lapangan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow