KPK Usut Kasus Stadion Mandala Krida, PSIM Yogyakarta Jadi Musafir
PSIM Yogyakarta dipastikan kembali berkandang di luar markas utamanya pada Super League 2026/2027. Klub berjuluk Laskar Mataram tersebut belum diperbolehkan mengandalkan Stadion Mandala Krida sebagai homebase resmi mereka, seperti dilansir dari Bola.
Kondisi Stadion Mandala Krida saat ini dinilai belum memenuhi standar kelayakan kompetisi tingkat atas. Arena tersebut masih kekurangan infrastruktur pendukung vital, mulai dari pencahayaan lapangan, papan skor digital, hingga kursi tunggal (single seat) untuk penonton.
Langkah pembenahan arena tersebut terhenti akibat masalah hukum. Proses renovasi Stadion Mandala Krida tidak dapat direalisasikan lantaran statusnya yang masih menjadi objek pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan korupsi pengerjaan proyek tahun 2016-2017.
Hambatan tersebut membuat PSIM Yogyakarta harus meneruskan status sebagai tim musafir. Skuad Laskar Mataram mengalihkan markas pertandingan kandang mereka ke Stadion Sultan Agung (SSA) yang berlokasi di Bantul.
Juru taktik PSIM, Jean-Paul van Gastel, mengutarakan pandangannya terkait kendala arena kandang yang dihadapi timnya. Pelatih asal Belanda itu menganggap permasalahan hukum yang membelit stadion utama telah merugikan banyak pihak.
"Saya mendengar tentang korupsi tersebut. Itu adalah hal yang buruk dan kami bisa dibilang menjadi korbannya," ujar Jean-Paul van Gastel.
Dampak bagi Suporter dan Pembenahan SSA
Arsitek tim berusia 54 tahun tersebut menegaskan bahwa kelompok pendukung PSIM menjadi pihak yang paling terdampak. Ketidakjelasan status stadion menghalangi Brajamusti dan The Maident untuk menyokong langsung tim kesayangan di rumah sendiri.
"Terutama para pendukung kami yang menjadi korban, karena itu adalah rumah mereka, atau rumah kami. Semua orang tentu ingin berada di rumahnya sendiri. Jadi, bisa dibilang kami adalah korban dari korupsi," kata Jean-Paul van Gastel.
Di tengah harapan agar bisa kembali ke pusat Kota Yogyakarta, manajemen tim berjuluk Naga Jawa ini berfokus membenahi Stadion Sultan Agung demi menyambut Super League 2026/2027. Sektor pencahayaan menjadi target peningkatan utama agar sesuai dengan ketetapan regulasi.
Pihak pengelola berupaya meningkatkan daya lampu stadion hingga mencapai standar minimal 1.600 lux. Manajer Operasional PSIM, Wendy Umar Senoaji, menyampaikan penjelasan teknis mengenai pengerjaan fasilitas di venue tersebut.
"Ada penambahan lux untuk lampunya karena hasil kemarin kami memang masih belum sesuai dengan standar yang ada di regulasi liga. Lampunya harus 1.600 lux," jelas Wendy Umar Senoaji.
"Project LED sudah proses pasang. Mudah-mudahan bulan ini sudah selesai semuanya. Dilanjutkan dengan project maintenance field of play di venue," kata Wendy Umar Senoaji.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow